Kamis, 15 November 2018

Ambisi Berada Di Puncak Klasemen

        Aku tidak sadar kalau selama ini perjalananku penuh dengan ambisi. Dari belia, spesifiknya di tingkat pendidikan dasar, aku selalu memasang target juara,... juara,... dan juara. Aku akan menangis ketika yang aku inginkan tidak tercapai. Tapi ketika targetku itu tercapai, aku senang bukan kepalang di hari yang bersamaan. Di lain hari berikutnya akan menjadi biasa saja. Aku tidak pernah mendapatkan kado apapun dari orang tuaku atas pencapaianku itu karena bagi mereka, pendidikan akademik yang aku jalani adalah demi masa depanku sendiri. Berhasil atau tidak, itu urusanku. Kalau aku sanggup menanggung malu, maka aku bebas melakukan semuanya semauku, bahkan dengan nilai yang amburadul. Orang tuaku akan bertindak seolah memakluminya.
        Kupikir dengan kebebasan yang diberikan orang tuaku akan membuat aku lega dalam menjalani hari-hari. Tapi nyatanya tidak. Pikiran untuk terus melakukan yang terbaik selalu saja terlintas di kepala, merasuk ke dalam kalbu, hingga terwujud dalam perilaku keseharianku. Aku selalu mempertimbangkan apa yang akan aku lakukan. Semua pertimbangan dilakukan dengan matang dan hati-hati hingga terciptalah diriku versi "perfectionist". Hasil pertimbangan sempurna ini pun berbuah sempurna dengan pencapaian yang sempurna. Di jenjang akademik, predikat juara 1 hampir selalu dalam genggaman. Seolah itu adalah kebiasaan yang jika lepas, aku akan menanggung malu. Di bidang perlombaan juga demikian, bahkan lomba 17-an yang sering digelar setahun sekali dalam rangka memperingati HUT RI, ambisiku selalu muncul dan nyaris di semua cabang perlombaan, akulah juaranya. Sampai-sampai tetanggaku banyak yang menggerutu kenapa selalu aku yang menang. Aku selalu menganggapnya angin lalu dan yang terpenting bagiku adalah asalkan aku puas dengan pencapaian yang aku inginkan, "berada di puncak klasemen". Semua kuanggap bumbu-bumbu penyedap dalam kehidupan. Seolah-olah hidupku adalah ambisiku. Tidak ada yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar